Facebook “Say NO to Megawati”

UPDATE:
********************
Sssssssst...... Pages ini sudah ditutup oleh Facebook. Case Closed!!!
********************
Say No TO Megawati at Facebook
Ini benar-benar fenomena luar biasa dari sebuah grup/pages di Facebook. Setelah melihat di kolom Highlight pada halaman facebook, dan melihat Commnet status salah seorang teman, saya tertarik untuk melihat pages berjudul

Say "NO!!!" to Megawati

Kemudian saya coba search tentang hal ini di google. Hasil resultnya ternyata sudah banyak sekali artikel tentang issue tersebut. Kemudian saya coba klik di salah satu result tersebut yang merujuk ke halaman ryosaeba (salah satu supporternya :D). Ditulis di blog tersebut bahwa laju jumlah pendukung pages tersebut sangat cepat.

Tertarik dengan apa yang ditulis bung Ryo, maka saya coba membuktikan dengan cara masuk ke pages facebook tersebut dan setiap kali halaman selesai diload (sekitar 10 s/d 20 detik) langsung saya refresh kembali sembari saya mencatat jumlah supporter nya (kurang kerjaan ya :P). Ternyata memang benar, hitung hitungan kasar saya setiap satu detik pages tersebut bertambah 1-2 supporter, hehehehe... canggihnya Facebook :P.

Berikut ini saya berikan kronologis jumlah supporternya (dicatat setiap kali refresh) :
46.816
46.835
46.847
46.867
46.883
46.903
46.924
46.936
46.942
46.956
46.963
46.974
46.992
47.000
47.033
47.041
47.053
47.070
47.081
47.093
47.105
Sampai tulisan ini saya publish, jumlah pendukung pages tersebut sudah mencapai 47.691.... woww. Padahal hari ini adalah hari libur, yang mana daripada sebagian member Facebook tidak sedang online (mungkin). Jadi tidak sabar melihat perkembangannya hari senin besok :D

Tags: ,

Pagi Hari di Kapuan, Cepu

Suatu pagi yang cerah di desa Kapuan, Cepu Jawa Tengah.

Tiga orang ibu berangkat bekerja dengan penuh ceria.


Read the rest of this entry »

Tags: ,

Peredaran 28 Produk Berbahan Baku Susu Bermelamin Ditarik BPOM RI

Terungkapnya produk susu asal Tiongkok yang tercemar melamin benar-benar membuat gempar negara tirai bambu itu. Bayangkan saja korban yang mencapai 53.000 anak-anak tentu saja jumlah yang sangat signifikan. Hampir semuanya terkena imbas kandungan melamin pada ginjalnya. 

Kasus susu bermelamin buatan ternyata juga merembet ke beberapa produk yang beredar di indonesia yang berbahan baku susu dari cina tersebut. Tanggal 23 September kemarin BPOM RI secara resmi menarik 28 produk makanan yang beredar di pasaran karena menggunakan bahan baku susu yang mengandung melamin. berikut daftar yang saya dapatkan dari Koran Tempo:

1. Jinwel Yougoo Susu Fermentasi Rasa Jeruk
2. Jinwel Yougoo Aneka Buah
3. Jinwel Yougoo tanpa Rasa
4. Guozhen susu bubuk full cream
5. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Cokelat
6. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Vanila
7. Oreo Stick Wafer
8. Oreo Stick Wafer (disebut dua kali, karena ukuran berbeda)
9. Oreo Cokelat Sandwich Cookies
10. M&M’s Kembang Gula Cokelat Susu
11. M&M’s Cokelat Susu
12. Snicker’s (biskuit-nougat lapis cokelat)
13. Dove Choc Kembang Gula Cokelat
14. Dove Choc
15. Dove Choc (disebut dua kali, karena ukuran berbeda)
16. Natural Choice Yoghurt Flavoured Ice Bar
17. Yili Bean Club Matcha Red Bean Ice Bar
18. Yili Bean Club Red Bean Ice Bar
19. Yili Prestige Chocliz
20. Yili Chestnut Ice Bar
21. Nestle Dairy Farm UHT Pure Milk
22. Yili High Calcium Low Fat Milk Beverage
23. Yili High Calcium Milk Beverage
24. Yili Pure Milk 205 ml
25. Yili Pure Milk 1 L
26. Dutch Lady Strawberry Flavoured Milk
27. White Rabbit Creamy Candy
28. Yili Choice Dairy Frozen Yoghurt Bar (kembang gula)

SUMBER: Pusat Komunikasi Publik Sekkretariay Jenderal Departemen Kesehatan RI

Sepertinya beberapa produk cukup familier di telinga kita bukan?

Tags: , , , , ,

Pak Paiman Menjual Dipan Berkeliling

Hari minggu pagi tanggal 20 April kemarin aku mengantarkan istri tercinta belanja ke Pasar Gentan. Pasar tradisional kecil yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah kami itu cukup ramai. Mungkin karena letaknya yang memang strategis (dimana-mana yang namanya pasar letaknya strategis dong :D), terletak di pinggir jalan Kaliurang, tepatnya ada di kilometer 10. Sedangkan di sekitar daerah tersebut banyak perumahan dan perkampungan.

Seperti biasanya aku lebih senang menunggu di luar pasar sementara istriku berbelanja. Duduk di pangkalan ojek, aku senang memperhatikan aktifitas orang-orang. Melihat kegigihan orang-orang yang sedang mencari nafkah. Aku selalu kagum dengan kerja keras mereka. Apa yang mereka kerjakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan terutama anak-anak mereka.

Tapi pagi itu pandanganku terhenti pada seorang bapak tua yang sedang duduk di sebuah dipan (tempat tidur) kayu di pinggir pasar. Dipan kayunya baru, sepertinya bapak tengah menanti seseorang yang mau membeli dipan tersebut. Hatiku tergerak untuk mengajak berbincang dengan bapak itu. Tapi sebelum menghampiri bapak itu, aku sempatkan mengambil gambarnya dengan kameraku, cepret!!

"Dipannya dijual ya pak?" tanyaku dengan bahasa jawa halus. Wajahnya kemudian tampak sumringah sambil mengiyakan pertanyaanku. Wah, jadi nggak enak nih kalo dikira mo membeli dipannya, pikirku. Makanya langsung aja aku ajak bapak itu berkenalan dan minta ijin ngobrol-ngobrol agar beliau tidak salah sangka.

Pak Paiman, begitu nama beliau. Aku sungkan bertanya tentang usianya, tapi kalo dilihat-lihat mungkin usia pak Paiman sudah lebih dari 60 tahun, lihat sendiri deh fotonya. Beliau mempunyai dua orang anak, aku juga tidak menanyakan lebih jauh tentang anaknya. Seiring dengan obrolan yang terus mengalir dan senyum lugu beliau yang mengiringi perkataanya, aku semakin kagum dengan beliau.

Dipan kayu yang dijual berkeliling dengan dipanggul di pundak itu adalah hasil karyanya sendiri. Butuh waktu kurang dari 3 hari untuk membuat satu dipan. Dipan ukuran single yang tengah dibawanya ini dijual dengan harga Rp. 300.000,-. Cukup murah untuk dipan dari bahan kayu jati. Kalo masih tega menawar harganya mungkin bisa lebih murah lagi :).

Mulanya aku pikir beliau tinggal di daerah sekitar itu. tapi ketika pak paiman membertahukan asalnya aku cukup kaget. Subhanalloh, ternyata beliau berasal dari daerah Bantul timur, tepatnya kecamatan Dlingo. Dan dari rumahnya itu pula beliau berjalan kaki memanggul dipannya. Entah sudah berapa puluh kilometer yang dilalui hingga sampai di sini, kelurahan Gentan, kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Hari ini adalah hari kedua sejak keberangkatan pak Paiman dari rumahnya. dan ketika aku tanya kalo malam menginap di mana, dengan tersenyum juga beliau menjawab "seadanya". Untuk yang satu ini mungkin beliau tinggal mencari tempat beratap, karena tempat tidurnya tentu sudah ada :) . Tentunya menjual dipan tidak semudah menjual kacang. Sekali berangkat mungkin bisa beberapa hari beliau memanggul dipannya keliling Yogyakarta dan sekitarnya. Subhanalloh. "Sebulan bisa jual berapa dipan pak?" pertanyaanku cuma dijawab dengan "lumayan hehehehe". Aku senang melihat senyum pak Paiman.

Meskipun hidupnya berat namun selama obrolan Pak Paiman tidak terlalu mengeluh, entah tentang harga-harga kebutuhan yang mahal, atau kondisi negara yang semakin tidak jelas. Beliau cuma heran ada apa dengan cuaca sekarang, "Masih jam 9 pagi kok sudah panas", begitu kira-kira ucapan beliau. Itu sih karena Global Warming pak, jawabku dalam hati.

Masih banyak yang ingin aku tanyakan ke Pak Paiman tapi istriku sudah ngawe-awe, oh dia sudah selesai belanjanya. Aku berpamitan dengan pak Paiman dan segera pulang. Sampai di rumah aku cerita ke istriku tentang pak Paiman. "Kenapa tadi tidak diajak makan? mungkin dia belum makan lho..." begitu kata istriku. Aku bingung harus bilang apa. Aku nggak mau dikira menaruh iba, padahal aku yakin beliau bukan tipe orang yang ingin dikasihani. Beliau orang yang tegar dan pekerja keras.

Buat saya, beliau adalah orang yang terhormat.

Tags: , , ,